LESTARIKAN BUDAYA, PKK KOTA DENPASAR GELAR PELATIHAN BANTEN
Ditengah perkembangan jaman modernisasi batas-batas perkembangan informasi tidak bisa dibedakan lagi. Dari perkembangan perkembangan tersebut membuat banyaknya budaya luar masuk ke Bali yang tentunya akan mempengaruhi budaya Bali termasuk perubahan perilaku masyarakat. Salah satunya dalam pembuatan banten yang merupakan keperluan dalam upacara di Bali. Demikian disampaikan Camat Denpasar Timur IB Alit saat membuka pelatihan membuat banten yang diikuti perwakilan ibu-ibu PKK se-Kecamatan Denpasar Timur Jumat (23/9) di Wantilan Desa Kesiman. Pelatihan yang berlangsung sehari dihadiri Wakil Ketua Tim Penggerak PKK Kota Denpasar Ny. Antari Jaya Negara beserta pengurus PKK se-Kota Denpasar.
Lebih lanjut IB Alit menambahkan saat ini perubahan perilaku masyarakat dapat dilihat sebagian besar masyarakat membeli banten dalam kesehariannya. Untuk itu perlu ditingkat pemahaman masyarakat dalam membuat banten terutama dalam upacara piodalan. Saat ini masyarakat dan generasi muda kurang memahami dalam pembuatan banten yang benar sesuai dengan sastra agama. Melalui pelatihan yang dilakukan sekarang ini sangat baik untuk meningkatkan pemahaman dalam membuat banten terutama banten pengodolan. “Kami harapkan melalui pelatihan banten ibu-ibu mengetahui secara benar sesuai sastra agama dalam membuat banten,†ujar IB Alit. Disamping itu usai melakukan pelatihan banten ini agar bisa diketok tularkan pada masyarakat lain terutama generasi muda.
Narasumber pelatihan banten IB Sudarsana dalam penjelasannya mengatakan masyarakat Denpasar patut bersyukur karena Walikota Denpasar sangat konsen dalam melestarikan budaya termasuk dalam membuat banten. Karena sekarang ini masyarakat kurang memahami cara membuat banten yang benar sesuai sastra agama. Lebih lanjut IB Sudarsana mengatakan dalam membuat banten hendaknya jangan sampai tidak memahami makna dari baten itu sendiri sehingga tidak menimbulkan pemahaman mulo keto (memang kayak gitu). Pada dasarnya semua banten sekecil apapun yang di pakai sesajen memiliki makna sangat tinggi. “Semua banten yang dibuat sekecil apapun memiliki makna sehingga dalam melaksanakan upacara tahu kepada siapa harus dipersembahkan sesajen tersebut,†ujar IB Sudarsana. Dalam kesempatan tersebut IB Sudarsana mencontohkan dalam membuat banten canang sari. Pembuatan banten canang sari tidak hanya memperhatikan keindahan namun penataan warna harus sesuai dengan pengider-ider. “Selama ini masyarakat hanya memperhatikan keindahan canang semata namun tidak seuai dengan pengider-ider atau asta dewata terutama dalam menata bunga pada canang sari tersebut,†ujar IB Sudarsana. Dengan adanya pelatihan ini diharapkan ibu-ibu benar-benar memahami dalam menata bunga pada canang sehingga tahu bunga putih letaknya di timur, bunga merah di selatan, bunga kuning di barat, bunga hitam di utara dan bungga seperti pandan di tengah-tengah.
Salah seorang peserta I Ketut Seriana mengaku sangat senang mendapat kesempatan untuk mengikuti pelatihan banten ini. Karena selama ini sering membuat banten namun kurang memahami makna pembuatan banten. “Dengan adanya pelatihan semacam ini Kami harapkan dapat meningkatkan pemahaman dalam membuat banten,†harapnya. Kedepannya pelatihan ini terus dilaksanakan dengan materi pelatihan yang lain. (Gst)