LESTARIKAN ADAT DAN BUDAYA
Ditengah perkembangan jaman modernisasi batas-batas perkembangan informasi tidak bisa dibedakan lagi. Dari perkembangan perkembangan tersebut membuat banyaknya budaya luar masuk ke Bali yang tentunya akan mempengaruhi budaya Bali termasuk perubahan perilaku masyarakat. Salah satunya dalam pembuatan banten yang merupakan keperluan dalam upacara di Bali. Menanggapi fenomena tersebut PKK Kota Denpasar terus gencar melaksanakan pelatihan membuat banten yang menyasar kader-kader PKK di banjar-banjar dan sekaa teruna, seperti di laksanakan di Wantilan Pura Pemutaran Jagat, Desa Sidakarya,Kecamatan Denpasar Selatan, Sabtu (20/10). Pelatihan banten dihadiri Wakil Ketua TP PKK Kota Denpasar Ny. Antari Jaya Negara beserta pengurus PKK Kota Denpasar.
I Wayan Kerta, Kasi Kesra yang hadir dalam pelatihan tersebut mengatakan pelatihan yang dilaksanakan PKK Kota Denpasar sangat baik untuk melestarikan adat dan budaya Bali terutama dalam hal membuat banten. Terlebih lagi pelatihan ini diikuti oleh karang taruna, tentunya diharapkan dapat membentuk kaderisasi. “Kami harapkan kedepannya melalui pelatihan semacam ini kaderisasi untuk melestarikan adat dan budaya Bali akan terus terbentuk,†harap Kerta.
Narasumber pelatihan banten IB Sudarsana dalam penjelasannya mengatakan masyarakat Denpasar patut bersyukur karena Walikota Denpasar sangat konsen dalam melestarikan budaya termasuk dalam membuat banten. Seperti yang dilaksanakan sekarang ini yang dikoordinir TP PKK Kota Denpasar. Karena sekarang ini masyarakat kurang memahami cara membuat banten yang benar sesuai sastra agama. Lebih lanjut IB Sudarsana mengatakan dalam membuat banten hendaknya jangan sampai tidak memahami makna dari baten itu sendiri sehingga tidak menimbulkan pemahaman mulo keto (memang kayak gitu). Pada dasarnya semua banten sekecil apapun yang di pakai sesajen memiliki makna sangat tinggi. “Semua banten yang dibuat sekecil apapun memiliki makna sehingga dalam melaksanakan upacara tahu kepada siapa harus dipersembahkan sesajen tersebut,†ujar IB Sudarsana. Dalam kesempatan tersebut IB Sudarsana mencontohkan dalam membuat banten canang sari. Pembuatan banten canang sari tidak hanya memperhatikan keindahan namun penataan warna harus sesuai dengan pengider-ider. “Selama ini masyarakat hanya memperhatikan keindahan canang semata namun tidak seuai dengan pengider-ider atau asta dewata terutama dalam menata bunga pada canang sari tersebut,†ujar IB Sudarsana. Dengan adanya pelatihan ini diharapkan ibu-ibu benar-benar memahami dalam menata bunga pada canang sehingga tahu bunga putih letaknya di timur, bunga merah di selatan, bunga kuning di barat, bunga hitam di utara dan bungga seperti pandan di tengah-tengah.
Salah seorang peserta Ni Made Sumerti mengaku sangat senang mendapat kesempatan untuk mengikuti pelatihan banten ini. Karena selama ini sering membuat banten namun kurang memahami makna pembuatan banten. “Dengan adanya pelatihan semacam ini Kami harapkan dapat meningkatkan pemahaman dalam membuat banten,†harapnya. Kedepannya pelatihan ini terus dilaksanakan dengan materi pelatihan yang lain.
Hal senada disampaikan Ayu Wulandari dari STT Br. Sekar Kangin yang mengatakan pelatihan membuat banten melibatkan generasi muda sangat baik sekali. Disamping untuk sebagai ajang pembelajaran bagi generasi muda juga untuk melestarikan budaya yang ada. (Gst)