BENTUK KADER-KADER PEMBUAT BANTEN
Setelah menyasar tiga kecamatan dalam pelatihan membuat banten, kini giliran perwakilan ibu-ibu kecamatan Denpasar Utara mendapat pelatihan membuat banten. Pelatihan ini merupakan salah satu cara untuk melestarikan adat dan budaya Bali. Disamping juga untuk membentuk kader-kader pembuat banten di masing-masing desa/lurah. Demikian disampaikan IB Sudarsana sebagai nara sumber dalam pelatihan banten tersebut. Pelatihan yang diikuti ratusan ibu-ibu ini berlangsung sehari dibuka Plt. Camat Denpasar Utara I Nyoman Lodra yang dihadiri Wakil Ketua Tim Penggerak PKK Kota Denpasar Ny. Kerti Rai Iswara di halaman kantor Camat Denpasa Utara, Senin (26/9).
Pembentukan kader-kader pembuat banten menurut IB Sudarsana ini menandakan kepekaan Pemerintah Kota Denpasar terhadap kelangsungan adat dan budaya Bali. “Saat ini yang mengerti terhadap bebantenan kebanyakan dari para pengelingsir atau orang tua. Sedangkan generasi muda kurang memahami bebantenan sesuai sastra agama,†ujar IB Sudarsana. Dengan adanya program pelatihan membuat banten yang dilaksanakan Pemkot Denpasar melalui PKK Kota Denpasar diharapkan peserta yang telah mengikuti pelatihan dapat mengetok tularkan pada masyarakat lainnya. Disamping itu dapat membentuk kader-kader pembuat banten yang mengerti dan sesuai sastra agama. Saat ini kebanyakan masyarakat membuat banten hanya berdasarkan pengerasa sehingga tidak sesuai dengan sastra agama. Sehingga lebih sering dalam membuat banten, masyarakat yang hanya menggunakan pengerasa tanpa berpatokan pada sastra agama banten yang dibuat jauh lebih banyak. Tentunya akan menjadi beban bagi generasi muda kedepan terutama dalam hal biaya. Dalam kesempatan tersebut IB Sudarsana mencontohkan pembuatan banten saiban. Dalam sastra agama banten saiban hanya di haturkan di lima tempat yaitu sapu, pisau, alat pengasah pisau atau sangian, ulekan dan talenan.
Lebih lanjut IB Sudarsana mengatakan dalam membuat banten hendaknya jangan sampai tidak memahami makna dari banten itu sendiri sehingga tidak menimbulkan pemahaman mulo keto (memang kayak gitu). Pada dasarnya semua banten sekecil apapun yang di pakai sesajen memiliki makna sangat tinggi. “Semua banten yang dibuat sekecil apapun memiliki makna sehingga dalam melaksanakan upacara tahu kepada siapa harus dipersembahkan sesajen tersebut,†ujar IB Sudarsana. Dalam kesempatan tersebut IB Sudarsana mencontohkan dalam membuat banten canang sari. Pembuatan banten canang sari tidak hanya memperhatikan keindahan namun penataan warna harus sesuai dengan pengider-ider. “Selama ini masyarakat hanya memperhatikan keindahan canang semata namun tidak seuai dengan pengider-ider atau asta dewata terutama dalam menata bunga pada canang sari tersebut,†ujar IB Sudarsana. Dengan adanya pelatihan ini diharapkan ibu-ibu benar-benar memahami dalam menata bunga pada canang sehingga tahu bunga putih letaknya di timur, bunga merah di selatan, bunga kuning di barat, bunga hitam di utara dan bungga seperti pandan di tengah-tengah.
Plt. Camat Denpasar Utara I Nyoman Lodra ditemui disela-sela pelatihan mengatakan Pemerintah Kota yang telah lama memberikan program unggulan berbasis budaya unggulan yang sangat dirasakan masyarakat salah satunya pelatihan banten ini. Pelatihan ini sangat bagus untuk ibu-ibu agar bisa melestarikan adat dan budaya. Melalui pelatihan yang dilakukan sekarang ini sangat baik untuk meningkatkan pemahaman dalam membuat banten terutama banten pengodalan. “Kami harapkan melalui pelatihan banten ibu-ibu mengetahui secara benar sesuai sastra agama dalam membuat banten,†ujar Noman Lodra. (Gst)